Jangan Tanya Kenapa

Entah sudah berapa banyak kata tanya yang harus kudengar
“Kenapa?”
“Kenapa?”
“Kenapa…dia?”
atas pilihan yang dengan bangga kubawa

“Kenapa?”
“Kenapa?”
“Kenapa…dia”

Terus terang, aku tidak mengerti apa yang harus aku jelaskan.
Yang aku mengerti, dia mengajarkanku soal rasa…
Hanya rasa…bukan kata-kata.

–Jakarta, 21/02/2013

Bachelorette (2012)

Kisah bertema pesta pernikahan memang selalu menarik untuk diangkat ke dalam sebuah film. Kali ini, Leslye Headland, dalam debut penyutradaraannya, mencoba mengangkat tema cerita yg cukup populer ini melalui Bachelorette.

Bercerita tentang 4 orang sahabat sejak SMA: Regan (Kristen Dunst), Gena (Lizzy Caplan), Katie (Isla Fisher) dan Becky (Rebel Wilson). Film dimulai saat Becky dan Regan bertemu untuk makan siang di sebuah kafe. Siang itu Regan dikejutkan tentang kabar rencana pernikahan Becky dengan Dale-kekasih Becky. Kenyataan bahwa Becky yang perawakan fisiknya lebih berisi dibanding 3 sahabatnya itu menikah lebih dulu sempat membuat Regan, yang paling cantik dan cerdas dibanding lainnya, shock dan tidak percaya. Selama ini Regan berasumsi bahwa dialah yang akan lebih dulu menikah dibanding ketiga sahabatnya. Teman-temannya yang dulu semasa sekolah terkenal sebagai gadis cantik juga terkejut dengan rencana pernikahan Becky tersebut.

Cerita kemudian berlanjut ke malam sebelum acara pernikahan, dimana mereka semua berkumpul bersama dua keluarga besar dan calon mempelai. Gena dan Katie yang memang sudah mulai high akibat pengaruh kokain nyaris mengacaukan suasana dengan speech yang berantakan. Kekacauan juga terjadi saat Bachelorette party, yang seharusnya adalah hanya acara kumpul-kumpul biasa, mendadak menjadi sedikit liar karena ulah Katie yang diam-diam mengundang striptease dancer yang kemudian justru mengacaukan acara dan membuat Becky marah. Pada akhirnya Regan berinisiatif menghentikan acara. Tidak sampai disitu saja, karena kekacauan sesungguhnya terjadi saat semua sedang istirahat. Regan, Gena dan Katie yang dalam keadaan mabuk berinisiatif melakukan hal gila. Mereka mengambil gaun pengantin Becky yang berukuran besar untuk dikenakan berdua oleh Regan dan Katie. Saat Gena akan mengambil foto Regan dan Katie berdua dalam baju tersebut, tiba-tiba gaun pengantin sobek. Regan, Gena dan Katie yang dalam keadaan mabuk berusaha mencari cara untuk memperbaiki kesalahan mereka. Semalaman mereka berkeliling kota untuk mencari solusi untuk memperbaiki gaun tersebut. Berhasilkah mereka menyelamatkan gaun pernikahan Becky?

Hilarious! I couldn’t hold myself not to laugh at many moments along the movie.

Film ini sesungguhnya sangat simple. Setting cerita juga hanya berlangsung di waktu yang sempit. Itupun sebagian besar setting adalah malam dini hari dimana Regan dan teman-temannya menjelajahi kota sambil membawa gaun pengantin yang sobek, terlibat masalah ini dan itu, dengan gaun pengantin dalam genggaman mereka. Namun acting pemainnya cukup mampu membuat penonton terbahak dengan tingkah bodoh mereka. Kristen Dunst bermain cukup manis disini, even though it wasn’t her best, tapi nyawa Regan cukup terasa di film ini – terlepas dari karakter Regan yang memang dominan dan control freak. Atau paling tidak Dunst mampu membawa karakter ini tampil sebagai lead character tanpa harus menenggelamkan karakter-karakter lainnya sehingga feel of best friend connection-nya jadi lebih terasa. Regan tampil smooth sebagai gank leader namun tetap blend dalam persahabatannya dengan karakter Gena yang diperankan oleh Lizzy Caplan, Isla Fisher yang berperan sebagai Katie, terutama kedekatannya dengan Becky (Rebel Wilson)-yang walaupun dalam film ini tidak terlalu banyak disorot.

Enough with the girls,,,now move on to the boy. Memang tokoh-tokoh pria disini bisa dibilang hanya sebagai pemanis cerita tapi justru favorit saya disini adalah Clyde yang diperankan oleh Adam Scott. Menurut saya justru Clyde ini lah yang justru mencuri perhatian dengan tampilan nakal sebagai play boy yang menyebalkan namun dalam sekejap dapat berubah menjadi pria yang sedang jatuh cinta. The way he was jerking around with Gena and bagaimana akhirnya dia menyadari perasaannya yang sesungguhnya : lovely. I could feel it just by looking at his eyes (through the screen, of course). Atau saya memang harus mengakui kalau sepanjang film ini konflik antara Gena dan Clyde-lah yang justru yang paling mencuri perhatian saya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa film ini masih berada dibawah bayang-bayang Bridesmaids dan memang rasanya susah untuk menandingi kesuksesan film yang jadi salah satu favorit saya di tahun 2011 itu. Kalau di Bridesmaids cerita lebih berfokus pada kegalauan Annie, sementara di Bachelorette lebih berfokurs kepada hubungan emotional antara Regan, Gena, Katie dan Becky. Bagaimana mereka saling peduli namun memendam perasaan sebal tanpa mengurangi rasa sayang antara mereka, just like sisters who love each other but also had a fight sometimes.

Film ini memang cewek banget, tapi dengan nuansa yang lebih vulgar. Kalau para pria punya Hangover dan Ted, nah, Bachelorette ini versi wanitanya. Sarcasm movie in a feminime theme, I think. ;p

Wall it was indeed a little messy here and ther but Bachelorettes is a fun movie you’d love to laugh at with your closest friends. It was also a good, or I must say, a very good brain refreshment after a very tiring day – for me. Because i had fun watching! ☺

Director : Leslye Headland

Casts : Kristen Dunst, Lizzy Chapman, Isla Fisher, Rebel Wilson, James Marsden, Adam Scott.

Rate : 3,5/5

the rehearsal dinner

the rehearsal dinner

My Random Story : Saat Perbedaan Mendewasakan Kita

Hari ini, hari Minggu dan kebetulan bertepatan dengan hari raya Waisak. Saya masih terjebak di Jakarta dengan kesibukan dan deadline kantor yang memakan waktu libur saya. Padahal rencananya tahun ini saya ada di Borobudur berburu moment untuk diabadikan.

Hari ini juga, timeline twitter saya masih penuh dengan kontroversi soal kejadian di Salihara. Ada yang memihak apa yang dilakukan, ada yang mengutuk. Semua dengan argumen masing masing. Ditambah dengan perjuangan kelompok yang mendukung kebebasan beragama yang tweetnya di RT oleh teman-teman saya. Kenapa pihak-yang mengaku suci-itu, menggunakan nama agama atas kekerasan yang mereka lakukan. Setidaknya itulah yang saya lihat sebagai masyarakat awam. Menyebalkan.

Masih teringat di benak saya, Sabtu pagi kemarin, saat saya baru bangun dan mendapati mention dari seorang teman. Timeline saya kemudian penuh dengan tweet2 berbau agama. Padahal, kalau kalian mengenal saya, saya bukan siapa2 yang paham sampai khatam soal agama. Tapi satu yang saya percaya, agama saya besar karena rasa kasih sayang. Kasih sayang Allah SWT kepada hambanya. Kasih sayang Rasul yang ia selalu ajarkan kepada umatnya.

Hari ini, saya kembali teringat percakapan dengan Mama saat saya masih kecil. Masih TK.

Fita     : Jadi orang dewasa itu enak. Semua bisa milih sendiri. Gak dilarang-larang.

(Statement ini keluar karena saya, kalo gak salah, dilarang menonton film yang menurut orang tua saya terlalu dewasa)

Mama: lebih enak jadi anak kecil. Nanti kalau sudah besar, mbak Sari pasti mengerti.

Dan kemudian, saya ngedumel. Berikutnya dimarahin. Berikutnya saya nangis dan semakin dimarahin. Halah, drama masa kecil.

Hari ini, saya semakin paham kata-kata Mama saya. Setidaknya dari sisi perbedaan yang saya rasakan saat kecil. Dulu, hidup jauh lebih mudah. Bahagia benar-benar sederhana bentuknya.

Sebagian masa kecil saya, dihabiskan di kota-kota kecil dimana Papa dinas. Karena perusahaan tempat Papa bekerja adalah BUMN dan berada di daerah yang jauh dari perkotaan maka karyawannya diberikan fasilitas perumahan yang kondisinya lumayan jauh berbeda dari pemukiman asli sekitar. Ini rada-rada mirip sama cerita PN Timah di film Laskar Pelangi. Hanya saja, perusahaan tempat Papa bekerja tidak semewah PN Timah. Tapi tetap, kesenjangan itu masih begitu kental terasa. Piala-piala kejuaraan Kabupaten disapu habis oleh SD milik perusahaan. Ya iyalah, fasilitas sekolah terbaik Kabupaten ada disana dan sebagian besar murid dibesarkan dari keluarga yang cukup berpendidikan jika dibandingkan dengan murid sekolah lain di daerah itu.

Di kompleks perumahan dinas itu, semua orang saling mengenal satu sama lain dan bahkan kadang sampai tahu urusan masing-masing (yang last part ini sebenernya buat saya sucks abis, krn saya tipe orang yang butuh privasi). Kekeluargaannya lumayan kental. Dan penghuninya datang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Suku dan Agama.

Tiap tahun, di kompleks kecil kami ada tiga hari raya besar. Idul Fitri, Idul adha dan Natal. Kami saling mengunjungi rumah masing-masing. Kalau Idul Fitri dan Idul Adha, rumah saya penuh dengan makanan dan kue-kue menggiurkan. Tamu berdatangan, sejak selesai solat Ied kemudian lanjut malam harinya. Begitu pula saat Natal, malam harinya saat ritual gereja umat Nasrani selesai, gantian kami yang Muslim yang berkunjung ke rumah mereka. Seperti keluarga.

Bahkan saat saya berusia, kalau tidak salah 5 tahun, saya sempat bertanya ke orang tua saya. Bedanya Natal sama Lebaran itu apa sih? (Kecil dulu saya ini tukang nanya-nanya kayak detektif)

“Ma, bedanya Natal sama Lebaran itu apa? Kenapa Natal gak pas tahun baru aja sih biar sekalian? Biar beli baju barunya lebih hemat. Jadi enak, tiap hari raya bajunya baru terus” -

fokusnya beda, ini gara-gara teman saya, dari keluarga Islam juga sama seperti saya, punya baju baru untuk 3 hari raya itu sementara saya hanya untuk Lebaran saja.

“Natal itu lebarannya agama Kristen.”
Pengertian ini sepertinya diberikan supaya memudahkan pemahaman saya.

Oke, kata kunci : Lebaran.

Malamnya, saat berkunjung ke rumah salah satu sahabat Papa yang merayakan Natal. Fita yang masih duduk di bangku TK besar mengucapkan selamat Natal dengan “Minal Aidzin Wal Faidzin”. Seisi rumah tertawa. Ohh…baru saya paham malam itu kalau ucapan selamatnya beda toh… Hehe

Well, sebenarnya bukan itu intinya. Tapi keragaman yang ada di kompleks kami benar-benar harmonis. Bahkan, tradisi amplop tempel saat Lebaran juga kadang hadir saat Natal. Saat lebaran, tidak peduli teman saya Islam atau bukan semua bergabung bersama merayakan kebersamaan kami. Semua anak dapat ‘reward’ yang sama. Hadiah yang sama dari om dan tante yang baik hati. Menjalin silaturahmi dari rumah satu ke rumah lain dalam balutan suasana kekeluargaan.

Saya juga masih ingat saat saya masih TK, seusai solat Ied saya dan teman-teman (agama berbeda-beda)-masih TK- dilepas orang tua kami, dengan diawasi anak2 yang lebih besar tentunya, berkunjung bersama dalam grup kecil ke rumah-rumah sambil belajar silaturahmi. Fita kecil dengan dress bunga-bunga Diesel-nya plus tas kecil senada yang sudah penuh dengan coklat, main kuda-kudaan di atas anjing milik tetangga, saat berkunjung ke rumah Budhe-Pakdhe pemilik Anjing, Beliau juga merayakan Idul Fitri. Bude pemilik anjing itu memang sayang banget sama saya, sampe rela anjing kerennya dijadiin kuda-kudaan. One of the best Idul Fitri in my life. Tahun itu, tahun pertama saya belajar bermasyarakat, dengan iming-iming permen dan coklat. Kalau Natal sih masih sama orang tua, karena acara berkunjungnya selalu malam hari.

Saat saya TK, pengasuh saya beragama Hindu. Pengasuh teman saya yang adalah tetangga saya, juga beragama Hindu. Keluarga kami menempuh perjalanan satu jam ke kota, dengan mobil masing-masing, mengantarkan pengasuh kami untuk beribadah ke Pura. Keluarga kami sering janjian ketemu sambil jalan-jalan. Nanti sorenya, pengasuh kami dijemput setelah ibadah selesai. Masih dengan mobil keluarga masing-masing. Bahkan di rumah pun saya merasakan indahnya hidup saat kita bisa menghargai satu sama lain.

Papa dan Mama juga sering aktif saat ada acara sosial. Saya dan adik saya sering diajak ikut melihat. Saya masih ingat jelas bagaimana semua saling bahu-membahu saat acara sosial atau ada bencana alam. Tanpa melihat perbedaan. Saya baru sadar hari ini, kalau masa kecil saya ternyata menyenangkan. Penuh warna dan petualangan.

Masa kecil yang dulu saat kecil sempat saya sesalkan karena harus jauh dari McD dan kesempatan mengoleksi Happy Meal yang selalu saya lakukan tiap mudik ke Surabaya. Jauh dari peradaban kota. Tapi ternyata, saat saya besar, baru saya sadari kompleks dinas di kota kecil itulah yang banyak membentuk karakter saya dan adik-adik saya dewasa ini. Kami belajar keragaman. Dan menghargai apa yang kami peroleh. Belajar menghargai sesama dan berbagi dengan sesama.

Saat saya dewasa, entah kenapa saya makin melihat perbedaan menjadi alasan untuk bermusuhan. Menyakiti satu sama lain.

Atau memang hidup itu terlihat lebih simple saat kita masih belia? Saat hidup kita tidak dibatasi motif-motif tertentu.

Hari ini, saya kembali merindukan masa kecil saya.

Saat perbedaan membawa persahabatan dan kekeluargaan di dalam kehidupan.

:’)

What you believe is yours. What I believe is mine.
Differences should make us one, shouldn’t used as reason to hurt others. We are here because the Love of God, not hatred. Hatred came from us, human ego. Let’s make peace on earth. Start from me. From you.

Happy Sunday, sampai ketemu di cerita-cerita random berikutnya.

Wassalam. :)

Modus Anomali (2012) : Berlari, Sembunyi dan Mencoba Pecahkan Misteri

Siapa yang tidak tahu dengan sutradara Joko Anwar? Karya filmnya selalu jadi topik pembicaraan di kalangan movie enthusiasts. Walau mungkin kalangan umum -well, most of my friends- lebih mengenalnya lewat sifat nyentriknya dan kepopulerannya lewat aksi kontroversial di dunia 140 karakter. Anw, saya sendiri, sebenarnya bukan penggemar Joko Anwar. Sebelum Modus Anomali, satu2nya film layar lebar-nya yang saya tonton adalah Janji Joni dan itupun karena ada Nicholas Saputra. Buat saya, Joko Anwar bukan tokoh yang spesial yang membuat saya mengejar sampai harus semua karyanya. Dia sutradara dan saya paham benar hal itu, but that’s it!. Bahkan mengetahui dua film setelah Janji Joni, yaitu Kala dan Pintu Terlarang berjaya di berbagai festival film internasional pun tetap tidak menarik perhatian saya untuk menontonnya di bioskop. Well, mungkin karena saya ini penakut. Tapi, jujur, dulu saya memang cenderung skeptis dengan kualitas film lokal. Film Modus Anomali pun saya tonton karena ajakan teman, mungkin saya harus berterima kasih padanya, karena film ini mengubah penilaian saya terhadap sosok sutradara ini. Secara Personal. Namun itu kisah lain, untuk saat ini mari kita bahas film-nya saja. :)

***

Secara garis besar Modus Anomali menceritakan tentang seorang pria (Rio Dewanto) terbangun dari kubur, menyadari dirinya berada di tempat asing di tengah hutan dan lupa akan identitasnya.
Dalam kebingungan, ia terus menyisir hutan hingga menemukan sebuah rumah dimana dia menemukan rekaman pembunuhan ibu hamil (Hannah Al Rashid) yang kemudian ia ketahui adalah istrinya. Di hutan itu, ia menghadapi serangkaian teror yang mengancam nyawanya, di tengah kebingungan itu juga, ia mengetahui bahwa anak-anaknya menghilang dan kemungkinan masih hidup, namun tersesat di tengah hutan. Ia pun berusaha mencari keberadaan anaknya, mencoba menyelamatkan mereka dan mencari tahu penyebab atas kejadian yang menimpa keluarganya.
Apa yang sebenarnya terjadi?

***

Mungkin belum sempurna, tapi berbeda! Hanya itu yang terlintas di otak saya seusai menonton film ini. Eksekusi film ini masih dibawah ekspektasi saya, tapi terus terang, film ini membawa penonton ke tingkat moviegasm yang sama sekali berbeda. Melalui film ini, Joko Anwar mengiring penonton ke serangkaian teka teki. Menimbulkan banyak pertanyaan, membuat kita mencoba menebak-nebak tentang ‘kenapa’, ‘siapa’, ‘bagaimana’, even to ‘when’ and ‘where‘. Mengajak penonton menjadi detektif selama durasi film.

Sebenarnya pemilihan Rio Dewanto sebagai tokoh utama di film ini juga menjadi pertanyaan besar bagi saya. Kenapa Rio Dewanto? Karena jujur saja akting Rio Dewanto ,menurut saya, kurang meyakinkan untuk tokoh sepenting itu.  Apa Joko Anwar punya alasan khusus untuk hal ini?
Alur filmnya terlalu lambat sehingga mengurangi ketegangan yang seharusnya dirasakan dari film thriller, it was (almost) not thrilling at all. Bahkan dengan pembunuhan dan teror yang bertubi tubi saya lempeng aja nontonnya, cenderung datar dan membosankan terutama di bagian awal. Apalagi, film ini adalah garapan Joko Anwar yang reputasinya karya-karyanya bisa dibilang bagus. And also don’t forget the broken english…pengucapan bahasa Inggris pada beberapa aktor, terutama yang masih kecil, masih terdengar kaku. Sayang sekali karena pengucapan yang ‘broken’ itu cenderung merusak  feel.

But overall, this is still a must see Indonesia Film. Karena Modus Anomali akan memberikan pengalaman sinema yang sama sekali berbeda, terutama jika dibandingkan dengan film lokal kebanyakan yang cenderung berputar di genre yang itu-itu saja. Siapa tahu kamu akan seperti saya, menemukan petualangan baru yang menantang. Semua karena film ini.
Teman saya yang merupakan penggemar karya Joko Anwar berpendapat bahwa menonton film-film Joko anwar sesungguhnya seperti bermain teka-teki. Hal ini baru saya sadari -terutama jika melihat antusiasme ‘pengikut’ setia karya2 Joko Anwar- yang membawa saya ke kesimpulan baru, bahwa sepertinya euforia utama menonton film-film karya Joko Anwar justru bukan di ritual menonton film-nya tetapi kesenangan memungut tiap ‘kepingan puzzle’ yang memang sengaja ditebar di tiap adegan film. Menantang! Terutama bagi mereka yang suka dengan permainan pikiran. Just look beyond what you see!

Langkahkan kakimu ke bioskop, teman! lalu pulanglah ke rumah dengan hati senang, kecewa atau dengan pikiran yang terus menumbuhkan tanya. :)

PS : buat yang belum nonton film Joko Anwar sebelumnya, I reccomend you to buy the previous film dvds. :) *menujupusatperbelanjaan*

Director : Joko Anwar
Writer   : Joko Anwar
Casts   : Rio Dewanto, Izzi Izman, Hannah Al Rashid

Rate : 6/10

The Hunger Games – A Review

I just keep wishing I could think of a way to show them that they don’t own me. If I’m gonna die, I wanna still be me. – Peeta Mellark

Diangkat dari kisah novel trilogi terkenal karangan Suzanne Collins, The Hunger Games, bahkan sebelum filmnya dirilis telah memiliki banyak penggemar fanatik, yang pastinya menanti kemunculan film ini. Entah apa yang terjadi pada saya hingga novel, yang katanya bagus ini, luput dari perhatian saya – yang ngakunya suka baca buku. Jadi, sangat disayangkan, bahwa saya tidak akan membandingkan film ini dengan novelnya. Hal yang biasa saya lakukan, saat berdikusi dengan teman, sehabis menonton Harry Potter dan Twilight Saga. Sehingga tentu saja, pemahaman saya menjadi kurang dalam karena hanya berdasarkan apa yang saya lihat di film saja. *sedihbukankepayang*

Film ini menceritakan tentang sebuah negara bernama Panem dengan ‘tradisi’ tahunannya bernama The Hunger Games dari sisi seorang gadis bernama Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence).
Panem sendiri memiliki 12 Distrik, yang dipimpin oleh The Capitol. Di masa lalu, ke 12 distrik yang berada dibawah kekuasaan The Capitol melakukan pemberontakan. Pemberontakan itu berakhir dengan kekalahan bagi ke-12 Distrik dan The Capitol masih tetap berkuasa. Untuk memperingati pemberontakan itu, The Capitol menggelar kompetisi tahunan bernama The Hunger Games.
The Hunger Games adalah sebuah kompetisi yang berisi 24 peserta (yang disebute Tributes) dari 12 distrik ‘jajahan’ Capitol. Tiap distrik mengirimkan 2 Tributes (1 pria, 1 wanita) dimana mereka akan bertanding mempertahankan hidup di sebuah hutan, saling membunuh sehingga hanya tersisa 1 pemenang saja, the last man standing, peserta yang berhasil bertahan hidup.

Memasuki tahun ke 74, The Hunger Games kembali akan digelar dan melakukan pengundian peserta di tiap distrik untuk memilih 2 Tributes sebagai. perwakilan. Pada tahun ke 74-The Hunger Games ini, Prim (Willow Shield ), adik Katniss, yang baru pertama kali mengikuti undian Tributes ternyata terpilih menjadi salah satu Tribute dari Distrik 12. Tidak tega adiknya harus menghadapi kompetisi ‘pengantar nyawa’ tersebut, Katniss akhirnya pun mengajukan diri sebagai relawan untuk menggantikan Prim. Bersama Peeta Mellark (Josh Hutcherson), rekan satu distriknya, mereka berdua berangkat ke The Capitol untuk mewakili Distrik12 dalam ajang tahunan The Hunger Games ke-74.
Disinilah perjuangan dan drama sesungguhnya dimulai bagi Katniss. Bersama dengan Peeta dan tributes lain, ia harus berjuang bertahan hidup di tengah ganasnya hutan dan sadisnya peserta lain yang tidak sungkan-sungkan membantai. Bersaing untuk menjadi peserta terakhir yang hidup.

Pada awalnya, saya merasa film ini agak aneh. Mungkin ada yang ingat dengan film Battle Royal? Saya tidak pernah suka dengan film itu, terlalu sadis untuk selera saya. Konsep pertandingan The Hunger Games agak mirip dengan Battle Royal. Tapi kemudian, film ini dapat meng-engage perhatian saya dan suprisingly saya bisa menikmati film ini. Memang harus saya akui, jalan ceritanya mudah dan enak untuk diikuti. Dan juga ternyata tidak se-menyeramkan bayangan saya hohoho. So, that’s a good start. Akting-akting pemainnya juga sangat kuat. Terutama Jennifer Lawrence (sbg Katniss), mungkin juga krn porsi film ini kebanyakan difokuskan ke Katniss sehingga fokus saya cenderung ke arah tokoh tersebut.

Sekilas, film ini berfokus pada perjuangan Katniss di kompetisi Hunger Games. Tapi menurut saya, banyak sekali ‘pesan’ sosial tersembunyi yang sebenarnya juga sangat erat kaitannya dengan keseluruhan cerita. Isu keluarga, teenage love, dignity and politics. Politik misalnya, lihat saja bagaimana The Capitol menciptakan propaganda bahwa ajang tahunan The Hunger Games itu merupakan bentuk rasa terima kasih kepada kebaikan The Capitol selama ini yang ‘merawat’ ke 12 distrik tersebut dan untuk memperingati pemberontakan di masa lalu. Padahal, menurut saya, kompetisi ini adalah kutukan, buat mereka yang harus mempertaruhkan nyawa ataupun mereka yang hanya menjadi penonton. Yet, The Capitol really know how to play the public opinion. Tipuan ala panggung politik sih ya intinya.

Isu keluarga, saat Katniss berkorban demi Prim. Teenage love or should I say ‘triangle love’? Between Gale-Katniss-Peeta. Atau Dignity saat Katniss dan Peeta tetap berusaha menjaga prinsip2 mereka di tengah-tengah keadaan yang seharusnya dapat membuat mereka lupa dengan hati nurani.

This is a very good movie to watch. Despite it’s cheesy love story -(adults tend to hate teenage love story)- but overall this movie is a very enjoyable one. It has actions, archery act (I always love archery art) and high fashion costumes. You really can find haute couture and others Runway look-alike along the movie. Siapa sih yang tahan lihat red flame dress-nya Katniss? Me want one!!!
And don’t forget the story as well. Maybe not that perfect, but it was pretty good to me and touched me by it’s own way.

Director : Gary Ross
Screen Writer : Gary Ross, Suzanne Collins
Casts : Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth.

The Raid : Redemption (A Review)

“Selamat bekerja dan bersenang-senang” – Tama

Sekali lagi, Gareth Evans-sutradara asal USA-yang sejak dulu sepertinya memang tergila-gila dengan aksi seni beladiri silat, menyajikan aksi pencak silat melalui layar bioskop. Setelah kemunculan Merantau beberapa tahun lalu, Evans kembali membuat film serupa dengan kualitas yang jauh lebih spektakuler melalui The Raid : Redemption. Sebuah film yang mengejutkan penikmat film sejak pemutaran perdananya di INAFF saat masih berjudul Serbuan Maut (sayang saya tidak sempat nonton saat itu), film yang memenuhi timeline saya dengan obrolan tweet super heboh tanpa henti sampai saat ini, film yang juga (katanya-saya sih blm sempet liat statistiknya) membuat heboh penikmat film di USA. Film yang membuat banyak penonton di Indonesia-yang sesungguhnya bukan penikmat film Indonesia krn sering dikecewakan-akhirnya nekad menguji nyali dan ekspektasinya lalu memutuskan untuk menonton film ini.

Menceritakan tentang misi penyerbuan rahasia oleh tim SWAT, yang dipimpin oleh sersan Jaka (Joe Taslim), ke sebuah apartemen kumuh yang menjadi sarang penjahat-penjahat dan gembong narkoba paling berbahaya, memiliki lapis-lapis pertahanan yang sangat kuat di tiap lantainya. Target utama misi ini adalah Tama (Ray Sahetapy) pimpinan gembong narkoba yang sangat sadis.
Untuk mencapai tempat Tama, di puncak apartemen itu, Sersan Jaka dan pasukannya harus melalui tiap level lantai demi lantai yang menyimpan kejutan-kejutan yang pastinya tidak menyenangkan. Perlawanan keras dari pendukung Tama membuat misi penyerbuan ini justru menjadi sebuah misi bunuh diri. Dimana satu per satu personel pasukan jatuh, terbunuh dengan sadis, diseret seperti binatang. Sehingga pada akhirnya, misi penyerbuan ini bukanlah lagi hanya soal bagaimana menangkap Tama, tetapi bagaimana mereka dapat keluar dari ‘neraka’ itu dalam keadaan masih bernyawa.

Film ini dibuka dengan adegan gerakan dasar seni bela diri yang menampilkan ketangkasan dan kecepatan dari seorang Rama (Iko Uwais)-seorang anggota polisi dengan segala kesederhanaannya. Suami yang mencintai istrinya dan seorang calon ayah. Dengan wajah humble ala Iko Uwais, memang cocok memerankan tokoh Rama, dan dalam seketika membuat saya jatuh cinta dengan kesederhanaan tokoh ini. Pemilihan tokoh utama yang tepat-menurut saya. Karakter yang dengan mudah mencuri hati penontonnya sejak awal film.

Kemudian ada Tama (Ray Sahetapy), dengan gayanya yang sangat santai. Namun ternyata dibalik sikapnya yang santai Tama adalah penjahat yang sangat sadis dan tidak berperasaan. Dengan pembawaannya yang tenang dan cenderung santai itu, Ray Sahetapy justru berhasil menampilkan sosok pemimpin yang kejam. As if, its okay for Tama to take someone else’s life. Seakan-akan hal itu adalah rutinitas harian biasa. Jangan lupa aksi beladiri Yayan Ruhian, yang berperan sebagai Mad Dog. Well, indeed he fought and kill just like a ‘MadDog’.

Walaupun sejak awal film ini telah menampilkan aksi bela diri yang mengagumkan, namun paling tidak justru di awal film-lah kita masih bisa mengambil nafas dengan agak tenang. Kenapa? Karena selanjutnya nafas anda akan dibuat memburu atau bahkan tersengal-sengal. Terlalu banyak adegan perkelahian, dengan berbagai macam senjata, yang (mungkin) bisa membuat lupa bernafas. You name it! senjata api, senjata tajam, tangan kosong bahkan patahan-patahan perabot bisa menjadi alasan nyawa melayang dan memercikkan darah ke mana-mana, dengan cara, yang tidak disangka-sangka. Jangan harap anda bisa menebak kemana senjata akan mengarah atau bagaimana perkelahian akan dimulai dan berakhir. Karena tiap aksi perkelahian di film ini, menurut saya, unpredictable. Iya, sadis memang dan sangat berdarah-darah.
Namun dibalik semua kekerasan yang ditampilkan, Evans masih berbaik hati untuk menyelipkan dialog-dialog yang membuat saya tidak kuasa menahan tawa sekaligus miris. Iya miris, krn tertawa namun sekaligus ngeri karena dialog itu muncul di tengah2 adegan sadis.

Mungkin memang ceritanya sederhana dan sangat minim dialog. Hampir keseluruhan film ini berfokus pada adegan bela diri tanpa henti. Tapi memang, menurut saya, justru dengan cara inilah film ini bisa menjadi efisien dan tentu saja didukung dengan scoring yang oke. Sehingga lebih mudah membawa fokus penonton untuk terpukau dengan sajian action tanpa harus terbawa pada drama yang menye-menye.

This is a non-stop-combat action that thrilled every heartbeat and every breath. Very very magnificient. Suprisingly well twisted – up beyond my expectation. This is a suprise!
The Raid:Redemption is a movie that will give you a challenging experience through action acts. This movie is a challenging experience that you don’t want to miss.

Director : Gareth Evans
Screen Writer : Gareth Evans
Casts : Iko Uwais, Ray Sahetapi, Yayan Ruhian, Joe Taslim

(Score : 8/10)

Choco Truffle Story

“Feb, gue ijin gak ikut rapat yaa. Mau bikin choco truffle di rumah Kania. Tuh bareng Anya.” Ujarku sambil nyengir-nyengir ke febrian. Ketua Osis yang terkenal galaknya itu.

Hari ini aku, Anya dan Kania berencana belajar cara membuat choco truffle, temanya sih menyambut valentine. Ah, ya terserah mereka berdua aja. Aku sih gak peduli urusan mellow shallow kayak valentine begitu, yang aku pedulikan hanya Choco Truffle.
Aku suka sekali choco truffle dan sudah lama sekali aku ingin tau bagaimana cara membuatnya. Siapa tau bisa jadi salah satu resep andalan di rumah coklat-ku suatu hari nanti. Hohoho

“Ngapain sih bikin coklat2 valentine kayak anak cupu. Lagipula mau lo kasih siapa?Laporan tahunan OSIS lebih penting, milly!” Jawabnya sinis

“Gue sih ikutan krn mau belajar buat choco truffle-nya aja”

“Pantesan aja muka lo pipi semua! Pikirannya makanan mulu. Lo gak takut tambah gembul, sentil dikit menggelinding tau gak?” Ia tertawa sinis.

Aku memilih diam. Percuma debat dengan Febrian, gak bakal menang. He’s the most brilliant public speaker in school.

“Mau kasih siapa lo? Yang lo kasih kayak mau aja terima coklat lo. Gembul!”

“Lo tuh ya feb, kalo gak ngijinin, bisa sopan dikit kan ngomongnya? Gak usah bawa2 fisik deh, mentang2 fans lo seantero sekolahan. Gue fix gak ikut rapat!” Ujarku membentak febrian.
Kali ini aku benar2 tdk tahan. Kutinggalkan Febrian. Mataku menghangat, kurasakan air mata mengalir di pipiku.

***

Feb 14th. Val’s day.

“Happy Val’s day” teriakku ke penjuru kelas

“Happy Val day too, Milly. Pagi-pagi semangat amat”

“Iya donk. Nih! Choco Truffle, buat sekelas.” Ujarku pada Teguh, ketua kelasku sambil menyerahkan kantongan besar berisi kotak2 kecil berjumlah 25. Sesuai jumlah murid di kelasku.

“Wow makasih ya. Eh, btw tadi Febrian kesini nyari lo bolak balik. Dari kemarin dia nyariin lo terus, Mil. Masih ngambek aja lo?”

“Biarin aja. Biar dia belajar dulu cara bicara yang sopan” jawabku datar

“Duh…jangan berantem sering2. Ntar jodoh lho..” Teguh menggodaku

“Ih rese lo! Amit2″

***

“Milly…Milly…” Febrian memanggilku dari kejauhan

Aduh! Harusnya aku gak ke kantin dekat 2-7, kelas Febrian. Kupercepat langkahku, tapi kaki panjang Febrian berhasil menyusulku.

“Feb, gue lagi gak mau ngomong sama lo”

“Milly, gue minta maaf. Gue tau omongan gue keterlaluan”

“Lo harusnya bisa mikir itu dari kemarin”

“Iya, abisnya gue sebel lo mau ikut2 bikin coklat”

“Hah? Bukan krn absen rapat?”

“Gue gak suka kalo lo bikin2 coklat buat cowo2 lain. Masa gitu aja lo gak ngerti sih?” Nadanya sedikit meninggi “Ah, percuma ngejelasin sm lo…anak kecil. Btw, Nanti rapat harus datang!” Febrian pergi meninggalkanku.

Kali ini aku yg kebingungan. Febrian? Who would hv thought?

Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta : a flash fiction

KEJUTAN!

KEJUTAN!

-Hari pertama-
Kemana sih kamu?
Kok gak ada disini sama aku?
Aku mencarimu ke berbagai penjuru. Tetap tidak bertemu.

-Hari Kedua-
Kamu tahu, 24 jam tanpa melihatmu itu kelabu!
Bosan. Gak ada yang seru.
Kamu dimana? Aku mau tahu.
Biar aku menyusulmu.
Aku rindu.

-Hari Ketiga-
Masih tak ada tanda-tanda kehadiranmu.
Rinduku semakin memburu.
Aku berlari ke segala penjuru.
Putus asa akan keberadaanmu.
Sepi.

Hingga tiba-tiba kudengar sebuah suara berseru padaku.

“Kakaakkk, si odol udah ketemu” Rania adikku berseru sambil ngos-ngosan karena berlari.

“Hah? Dimana?” Aku panik

“Di rumah tetangga baru, kak. Katanya udah tiga hari disana gak mau pulang”

Waduh. Mampus gue! Mana gak kenal sama yang punya rumah.
Aku bergegas menuju rumah tetangga baru yang baru dua bulan pindah itu. Dalam perjalanan aku teringat tingkah si Odol beberapa waktu terakhir. Ia sering pergi tiba-tiba dan jarang ada di rumah.
Sesampainya disana, tanpa ba-bi-bu lupa sopan santun aku langsung ngeloyor masuk ke dalam rumah dan panik.

“Si odol mana, Pak?” Ujarku pada pria paruh baya yang sedang mencuci mobil di depan garasi.
Dia mengerutkan kening, tapi begitu melihat adikku si Bapak tersenyum, ia paham siapa yang aku maksud.

“Langsung ke garasi aja mbak” ujarnya seraya menunjuk ke arah pintu garasi dan mempersilahkan aku masuk.

Disitulah kulihat si Odol. Kucing Persia kesayanganku dengan kalung berbandul gitar, yang kudapatkan secara gratis dari pasta gigiku. Cikal bakal nama Odol. Yah…majikan gak modal emang.hehe
Tapi gpp, yang penting si Odol ketemu.
Hanya saja Odol tidak sendiri, ada seekor kucing kampung berbulu belang disitu.
Dan..tunggu!
Itu anak-anak kucing? Yang ada di keranjang beralaskan taplak?

“Namanya Odol ya?Agak aneh ya buat kucing mahal kayak punya lo”
Sebuah suara mengagetkanku. Seorang pemuda seumuranku tiba-tiba berdiri disampingku.
Aku masih diam, terlalu terkejut dengan apa yang kulihat di hadapanku ini.
Odol, kucing lain, anak kucing.

“Kucing belang itu punya gue, namanya Mimi. Pacar Odol sepertinya, sejak gue pindah kesini kucing lo itu sering main kesini. Yaa…ini hasilnya 7 anak kucing. Anak Mimi dan Odol” ia melanjutkan kalimatnya

“Sumpah gue shock” hanya itu yang dapat terucap dari mulutku

Jadi ini ternyata yang jadi sumber masalahnya? Si Odol sedang jatuh cinta. Akhirnya bikin repot satu rumah.
Ah, tapi gpp. Aku senang kalo Odol senang.

Kami terdiam sejenak memandangi kucing-kucing kami yang sedang merasakan indah dunia.

“Oh iya, nama gue Robby” ia memperkenalkan diri

“Tania”

“Tan, lo restuin Odol sm kucing gue kan?” Ujarnya

“Hahah apaan sih lo… Udah kayak ortunya aja kita”

“Hahaha, this is gonna be fun!” Ujarku dalam hati.

(Bersambung)

***

Big Thanks to Mbak Lala for the challenging title. *elap2keringat* *lepasikatkepala* *sungkem*

@unge : ini judul hari ketiga belas ‘wow’ banget deh pokoknya!

K A M U

“bukan kamu yang aku mau!” Teriak logikaku
Kucoba acuh tapi semesta selalu merayu.
Sungguh, aku tak tau menahu alasan kenapa harus kamu.
Yang aku tahu kamu mengubahku jadi warnamu.
Mengubah melodi di tiap dentingan nada yang melagu.
Membawaku, jauh…
Dalam cerita yang sendu.

****

Safita Permatasari
16 Januari 2012 – 22:42