Dag…Dig…Dug… : a flash fiction

Dag…Dig…Dug…
Aku berjalan perlahan kearah meja kasir. Langkah kakiku gontai, aku merasakan munculnya bulir-bulir keringat di pelipisku. Pasti wajahku sudah pucat sekali sekarang. Jantungku berdebar tak karuan.

Dag…Dig…Dug…
Aku menghela nafas panjang. Mencoba mengumpulkan kekuatan. Sesekali kuusap keringat di keningku dengan sapu tangan.

“Ibu gak apa2?” Ujar seorang pemuda dibalik meja yang khawatir melihat wajahku yang sedikit pucat.

“Gak apa2” ujarku tersenyum

“Lagi hamil besar begini, kok gak ditemani suaminya bu?” Tanya pemuda itu.

Aku hanya tersenyum.

Tak lama kemudian, aku meninggalkan tempat itu. Berjalan sambil memegangi perutku yang membuncit.
“Sabar ya Nak…” Ujarku dalam hati

Dag.. Dig.. Dug..

“Bu, tunggu jangan pergi dulu” ada yang berteriak memanggilku.

Deg!
Kulihat pemuda tadi berlari kearahku. Seketika mukaku pucat pasi. Kupercepat langkahku. Tapi terlambat.

“Bu, dompetnya ketinggalan” ujar pemuda itu sambil tersengalsengal menyerahkan dompet berwarna coklat yang telah usang.

Kuambil dompet itu lalu cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut, bergegas menuju rumah.
Dalam hati aku tersenyum sekaligus lega.

“Tenang anak-anakku, ibu bawa susu buat kalian” bisikku dalam hati.

Di tengah jalan kukeluarkan kaleng-kaleng yang kusembunyikan di perut, dibalik jaket longgarku lalu memasukkannya ke dalam tas yang telah kusediakan. Aku tak peduli lagi soal nurani.
Demi perut anak-anakku.

9 thoughts on “Dag…Dig…Dug… : a flash fiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s