Choco Truffle Story

“Feb, gue ijin gak ikut rapat yaa. Mau bikin choco truffle di rumah Kania. Tuh bareng Anya.” Ujarku sambil nyengir-nyengir ke febrian. Ketua Osis yang terkenal galaknya itu.

Hari ini aku, Anya dan Kania berencana belajar cara membuat choco truffle, temanya sih menyambut valentine. Ah, ya terserah mereka berdua aja. Aku sih gak peduli urusan mellow shallow kayak valentine begitu, yang aku pedulikan hanya Choco Truffle.
Aku suka sekali choco truffle dan sudah lama sekali aku ingin tau bagaimana cara membuatnya. Siapa tau bisa jadi salah satu resep andalan di rumah coklat-ku suatu hari nanti. Hohoho

“Ngapain sih bikin coklat2 valentine kayak anak cupu. Lagipula mau lo kasih siapa?Laporan tahunan OSIS lebih penting, milly!” Jawabnya sinis

“Gue sih ikutan krn mau belajar buat choco truffle-nya aja”

“Pantesan aja muka lo pipi semua! Pikirannya makanan mulu. Lo gak takut tambah gembul, sentil dikit menggelinding tau gak?” Ia tertawa sinis.

Aku memilih diam. Percuma debat dengan Febrian, gak bakal menang. He’s the most brilliant public speaker in school.

“Mau kasih siapa lo? Yang lo kasih kayak mau aja terima coklat lo. Gembul!”

“Lo tuh ya feb, kalo gak ngijinin, bisa sopan dikit kan ngomongnya? Gak usah bawa2 fisik deh, mentang2 fans lo seantero sekolahan. Gue fix gak ikut rapat!” Ujarku membentak febrian.
Kali ini aku benar2 tdk tahan. Kutinggalkan Febrian. Mataku menghangat, kurasakan air mata mengalir di pipiku.

***

Feb 14th. Val’s day.

“Happy Val’s day” teriakku ke penjuru kelas

“Happy Val day too, Milly. Pagi-pagi semangat amat”

“Iya donk. Nih! Choco Truffle, buat sekelas.” Ujarku pada Teguh, ketua kelasku sambil menyerahkan kantongan besar berisi kotak2 kecil berjumlah 25. Sesuai jumlah murid di kelasku.

“Wow makasih ya. Eh, btw tadi Febrian kesini nyari lo bolak balik. Dari kemarin dia nyariin lo terus, Mil. Masih ngambek aja lo?”

“Biarin aja. Biar dia belajar dulu cara bicara yang sopan” jawabku datar

“Duh…jangan berantem sering2. Ntar jodoh lho..” Teguh menggodaku

“Ih rese lo! Amit2”

***

“Milly…Milly…” Febrian memanggilku dari kejauhan

Aduh! Harusnya aku gak ke kantin dekat 2-7, kelas Febrian. Kupercepat langkahku, tapi kaki panjang Febrian berhasil menyusulku.

“Feb, gue lagi gak mau ngomong sama lo”

“Milly, gue minta maaf. Gue tau omongan gue keterlaluan”

“Lo harusnya bisa mikir itu dari kemarin”

“Iya, abisnya gue sebel lo mau ikut2 bikin coklat”

“Hah? Bukan krn absen rapat?”

“Gue gak suka kalo lo bikin2 coklat buat cowo2 lain. Masa gitu aja lo gak ngerti sih?” Nadanya sedikit meninggi “Ah, percuma ngejelasin sm lo…anak kecil. Btw, Nanti rapat harus datang!” Febrian pergi meninggalkanku.

Kali ini aku yg kebingungan. Febrian? Who would hv thought?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s