My Random Story : Saat Perbedaan Mendewasakan Kita

Hari ini, hari Minggu dan kebetulan bertepatan dengan hari raya Waisak. Saya masih terjebak di Jakarta dengan kesibukan dan deadline kantor yang memakan waktu libur saya. Padahal rencananya tahun ini saya ada di Borobudur berburu moment untuk diabadikan.

Hari ini juga, timeline twitter saya masih penuh dengan kontroversi soal kejadian di Salihara. Ada yang memihak apa yang dilakukan, ada yang mengutuk. Semua dengan argumen masing masing. Ditambah dengan perjuangan kelompok yang mendukung kebebasan beragama yang tweetnya di RT oleh teman-teman saya. Kenapa pihak-yang mengaku suci-itu, menggunakan nama agama atas kekerasan yang mereka lakukan. Setidaknya itulah yang saya lihat sebagai masyarakat awam. Menyebalkan.

Masih teringat di benak saya, Sabtu pagi kemarin, saat saya baru bangun dan mendapati mention dari seorang teman. Timeline saya kemudian penuh dengan tweet2 berbau agama. Padahal, kalau kalian mengenal saya, saya bukan siapa2 yang paham sampai khatam soal agama. Tapi satu yang saya percaya, agama saya besar karena rasa kasih sayang. Kasih sayang Allah SWT kepada hambanya. Kasih sayang Rasul yang ia selalu ajarkan kepada umatnya.

Hari ini, saya kembali teringat percakapan dengan Mama saat saya masih kecil. Masih TK.

Fita ย  ย  : Jadi orang dewasa itu enak. Semua bisa milih sendiri. Gak dilarang-larang.

(Statement ini keluar karena saya, kalo gak salah, dilarang menonton film yang menurut orang tua saya terlalu dewasa)

Mama: lebih enak jadi anak kecil. Nanti kalau sudah besar, mbak Sari pasti mengerti.

Dan kemudian, saya ngedumel. Berikutnya dimarahin. Berikutnya saya nangis dan semakin dimarahin. Halah, drama masa kecil.

Hari ini, saya semakin paham kata-kata Mama saya. Setidaknya dari sisi perbedaan yang saya rasakan saat kecil. Dulu, hidup jauh lebih mudah. Bahagia benar-benar sederhana bentuknya.

Sebagian masa kecil saya, dihabiskan di kota-kota kecil dimana Papa dinas. Karena perusahaan tempat Papa bekerja adalah BUMN dan berada di daerah yang jauh dari perkotaan maka karyawannya diberikan fasilitas perumahan yang kondisinya lumayan jauh berbeda dari pemukiman asli sekitar. Ini rada-rada mirip sama cerita PN Timah di film Laskar Pelangi. Hanya saja, perusahaan tempat Papa bekerja tidak semewah PN Timah. Tapi tetap, kesenjangan itu masih begitu kental terasa. Piala-piala kejuaraan Kabupaten disapu habis oleh SD milik perusahaan. Ya iyalah, fasilitas sekolah terbaik Kabupaten ada disana dan sebagian besar murid dibesarkan dari keluarga yang cukup berpendidikan jika dibandingkan dengan murid sekolah lain di daerah itu.

Di kompleks perumahan dinas itu, semua orang saling mengenal satu sama lain dan bahkan kadang sampai tahu urusan masing-masing (yang last part ini sebenernya buat saya sucks abis, krn saya tipe orang yang butuh privasi). Kekeluargaannya lumayan kental. Dan penghuninya datang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Suku dan Agama.

Tiap tahun, di kompleks kecil kami ada tiga hari raya besar. Idul Fitri, Idul adha dan Natal. Kami saling mengunjungi rumah masing-masing. Kalau Idul Fitri dan Idul Adha, rumah saya penuh dengan makanan dan kue-kue menggiurkan. Tamu berdatangan, sejak selesai solat Ied kemudian lanjut malam harinya. Begitu pula saat Natal, malam harinya saat ritual gereja umat Nasrani selesai, gantian kami yang Muslim yang berkunjung ke rumah mereka. Seperti keluarga.

Bahkan saat saya berusia, kalau tidak salah 5 tahun, saya sempat bertanya ke orang tua saya. Bedanya Natal sama Lebaran itu apa sih? (Kecil dulu saya ini tukang nanya-nanya kayak detektif)

“Ma, bedanya Natal sama Lebaran itu apa? Kenapa Natal gak pas tahun baru aja sih biar sekalian? Biar beli baju barunya lebih hemat. Jadi enak, tiap hari raya bajunya baru terus” –

fokusnya beda, ini gara-gara teman saya, dari keluarga Islam juga sama seperti saya, punya baju baru untuk 3 hari raya itu sementara saya hanya untuk Lebaran saja.

“Natal itu lebarannya agama Kristen.”
Pengertian ini sepertinya diberikan supaya memudahkan pemahaman saya.

Oke, kata kunci : Lebaran.

Malamnya, saat berkunjung ke rumah salah satu sahabat Papa yang merayakan Natal. Fita yang masih duduk di bangku TK besar mengucapkan selamat Natal dengan “Minal Aidzin Wal Faidzin”. Seisi rumah tertawa. Ohh…baru saya paham malam itu kalau ucapan selamatnya beda toh… Hehe

Well, sebenarnya bukan itu intinya. Tapi keragaman yang ada di kompleks kami benar-benar harmonis. Bahkan, tradisi amplop tempel saat Lebaran juga kadang hadir saat Natal. Saat lebaran, tidak peduli teman saya Islam atau bukan semua bergabung bersama merayakan kebersamaan kami. Semua anak dapat ‘reward’ yang sama. Hadiah yang sama dari om dan tante yang baik hati. Menjalin silaturahmi dari rumah satu ke rumah lain dalam balutan suasana kekeluargaan.

Saya juga masih ingat saat saya masih TK, seusai solat Ied saya dan teman-teman (agama berbeda-beda)-masih TK- dilepas orang tua kami, dengan diawasi anak2 yang lebih besar tentunya, berkunjung bersama dalam grup kecil ke rumah-rumah sambil belajar silaturahmi. Fita kecil dengan dress bunga-bunga Diesel-nya plus tas kecil senada yang sudah penuh dengan coklat, main kuda-kudaan di atas anjing milik tetangga, saat berkunjung ke rumah Budhe-Pakdhe pemilik Anjing, Beliau juga merayakan Idul Fitri. Bude pemilik anjing itu memang sayang banget sama saya, sampe rela anjing kerennya dijadiin kuda-kudaan. One of the best Idul Fitri in my life. Tahun itu, tahun pertama saya belajar bermasyarakat, dengan iming-iming permen dan coklat. Kalau Natal sih masih sama orang tua, karena acara berkunjungnya selalu malam hari.

Saat saya TK, pengasuh saya beragama Hindu. Pengasuh teman saya yang adalah tetangga saya, juga beragama Hindu. Keluarga kami menempuh perjalanan satu jam ke kota, dengan mobil masing-masing, mengantarkan pengasuh kami untuk beribadah ke Pura. Keluarga kami sering janjian ketemu sambil jalan-jalan. Nanti sorenya, pengasuh kami dijemput setelah ibadah selesai. Masih dengan mobil keluarga masing-masing. Bahkan di rumah pun saya merasakan indahnya hidup saat kita bisa menghargai satu sama lain.

Papa dan Mama juga sering aktif saat ada acara sosial. Saya dan adik saya sering diajak ikut melihat. Saya masih ingat jelas bagaimana semua saling bahu-membahu saat acara sosial atau ada bencana alam. Tanpa melihat perbedaan. Saya baru sadar hari ini, kalau masa kecil saya ternyata menyenangkan. Penuh warna dan petualangan.

Masa kecil yang dulu saat kecil sempat saya sesalkan karena harus jauh dari McD dan kesempatan mengoleksi Happy Meal yang selalu saya lakukan tiap mudik ke Surabaya. Jauh dari peradaban kota. Tapi ternyata, saat saya besar, baru saya sadari kompleks dinas di kota kecil itulah yang banyak membentuk karakter saya dan adik-adik saya dewasa ini. Kami belajar keragaman. Dan menghargai apa yang kami peroleh. Belajar menghargai sesama dan berbagi dengan sesama.

Saat saya dewasa, entah kenapa saya makin melihat perbedaan menjadi alasan untuk bermusuhan. Menyakiti satu sama lain.

Atau memang hidup itu terlihat lebih simple saat kitaย masih belia? Saat hidup kita tidak dibatasi motif-motif tertentu.

Hari ini, saya kembali merindukan masa kecil saya.

Saat perbedaan membawa persahabatan dan kekeluargaan di dalam kehidupan.

:’)

What you believe is yours. What I believe is mine.
Differences should make us one, shouldn’t used as reason to hurt others. We are here because the Love of God, not hatred. Hatred came from us, human ego. Let’s make peace on earth. Start from me. From you.

Happy Sunday, sampai ketemu di cerita-cerita random berikutnya.

Wassalam.๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s